Benarkah Gangguan Kesehatan Mental Karena Kurang Iman? Ini Pendapat Dokter Jiwa

oleh -18 Dilihat
oleh

Reporter Tribune.com Isia Nursamsi melaporkan

INFOKUTIM.COM.COM, JAKARTA – Penyakit jiwa seringkali dikaitkan dengan tingkat keagamaan seseorang.

Seringkali orang yang mengalami gangguan kesehatan seringkali dikaitkan dengan “kurangnya keimanan” atau kedekatan dengan Tuhan.

Dalam hal ini Puskesmas Nasional, Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Dr. H. Marzoeki Mahdi (PKJN RSMM) Nova Rianti Yusuf memberikan jawabannya

Dokter tersebut bernama Dr. Noryu mengungkapkan, dirinya melakukan penelitian di sekolah.

Survei tersebut menggunakan skala 1-10 untuk menilai seberapa religius para siswa

Dalam siaran pers virtual, Kamis (14/12/2023), Dr Noryu mengatakan, “Rata-rata 8-10. Mereka merasa sangat adil. Tapi akibatnya cemas, depresi.

Selain itu, survei juga menanyakan kepada siswa apakah mereka mengetahui bahwa agama melarang bunuh diri.

“Ternyata jawabannya iman saya melarang bunuh diri. Saya pertanyaannya baru, saya belum mengikutinya, tapi saya dapat rata-rata tinggi, dari segi kejujuran kan, (mereka) ngerti kalau iman kok. Tinggalkan,” jelas Dr. Noryu.

Menurut Dr. Noryu, iman dan kesehatan mental baik.

Pada beberapa pasien, agama merupakan mekanisme koping, sebuah strategi yang digunakan seseorang untuk mengatasi stres

Ketika seseorang menghadapi suatu masalah, Agama menjadi solusinya

Namun, ada sebagian orang yang justru menggunakan agama untuk menilai dirinya sendiri

“Jadi nilailah sendiri. Saya melihatnya pada diri pasien. Dia menghukum dirinya sendiri dengan apa yang dia lakukan sesuai agamanya.”

Menurutnya, perlu membaca buku-buku agama yang fokus pada ‘pengampunan’ dan ‘penerimaan’.

“Saya kira sebaiknya membaca kitab agama yang diperbaharui. Ciptakan cara pandang yang berbeda seperti La Tahzan. Jangan menilai diri sendiri,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *