Ibu Berdaya Melalui Komunitas, Jadi Support System Karier dan Menyalurkan Hobi Selain Keluarga

oleh -112 Dilihat
oleh

INFOKUTIM.COM, Jakarta – Sejak lama para orang tua dipersatukan dengan berkumpul bersama. Namun kini tidak hanya sebatas kumpul-kumpul saja, para ibu bisa lebih berdaya jika bergabung dengan komunitas yang sesuai dengan minatnya.

Berkat media sosial dan internet, para ibu dapat menemukan berbagai komunitas. Salah satunya adalah Komunitas Women Empower Women At Work (WEWAW) yang tidak hanya diperuntukkan bagi para ibu tetapi juga bagi remaja putri.

WEWAW lahir pada tahun 2020 di tengah pandemi, dimana Jessica Carla sang pendiri hanya merasa betah. Berfokus pada keterampilan kerja, seorang perempuan bernama Carla terpanggil untuk membantu perempuan lain di tempat kerja.

Menurutnya, menjadi perempuan saat ini tidaklah mudah, apalagi di tempat kerja yang mayoritas laki-laki, ia merasa terstigmatisasi dan distereotipkan. ujar Carla saat wawancara telepon dengan INFOKUTIM.COM, Sabtu (23/12/2017). “Ada pendapat kalau perempuan yang ambisius tidak akan menikah dan sebagainya, jadi kenapa tidak coba dibuat forum agar bisa berdiskusi,” Ib ., 2023.

Ia menambahkan, perempuan yang ikut serta beragam, mulai dari remaja putri hingga ibu-ibu yang sudah memiliki anak sehingga menghadapi kesulitan besar dalam pekerjaannya. “Tujuan utamanya 18-26 tahun, karena ini usia yang buruk bagi perempuan untuk mengalami krisis di kehidupan keempat,” kata Carla yang beralih menjadi guru di sebuah sekolah negeri di Jakarta.

Menurutnya, bergabung dengan komunitas sejak muda dapat melahirkan perempuan sebelum menjadi ibu, sehingga sulitnya pekerjaan di masa depan dapat teratasi sejak awal. Tidak hanya di Jakarta, dengan jejaring sosialnya, Komunitas WEWAW telah berkembang hingga memiliki anggota di kota-kota lain seperti Mamuju, Flores bahkan Bontang.

“Kita tahu tantangan ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar, perempuan terpaksa menikah dan kemudian harus tinggal di rumah untuk mengurus keluarga,” tambahnya.

Ada beberapa cerita menarik dari anggota komunitas WEWAW. Bagi Carla, ia sangat senang bisa berpartisipasi dalam pengembangan pribadi dan kesuksesan para anggotanya.

Komunitas ini memiliki sistem pelatihan atau bimbingan bagi anggotanya, khususnya dalam pengembangan soft skill. “Banyak perempuan yang sudah menjadi ibu masih bisa menciptakan banyak cerita menarik. Seperti ibu-ibu yang sudah berpisah bertahun-tahun, tidak bekerja setelah menikah dan punya anak, tapi ingin mengejar mimpinya lagi,” jelas Carla.

Sebab, baginya, ketika seorang perempuan menikah, bukan berarti ia tidak boleh bekerja. “Di Wewaw, teman-teman percaya bahwa menjadi seorang ibu bukan berarti impian romantismu harus terhenti, karena ibu akan menjadi role model bagi anak-anaknya. Jika seorang ibu mempunyai ambisi dan keinginan yang tidak mengasuh anak-anaknya, maka tidak demikian halnya. ,” dia berkata. lagi.

Komunitas ini pada akhirnya menjadi suportif terhadap anggotanya. “Itu (dukungan) memang benar, tapi kita juga mengembangkan kemampuan, berlatih, berbagi pengalaman dan saling mendukung untuk memiliki tanggung jawab hidup, pengembangan diri, belajar menjadi manajer,” jelasnya sambil berkata. bahwa Keanggotaan WEWAW sekarang berjumlah sekitar 200 orang.

Dengan berpartisipasi di masyarakat, menurut Carla, perempuan yang telah memberdayakan dirinya akan mampu memberdayakan orang lain. “Kita saling dukung agar bisa terus maju, itulah pentingnya komunitas,” imbuhnya seraya juga menekankan kuatnya kerjasama di saat krisis, karena kalau hanya mengandalkan diri sendiri, akan sangat baik tapi mungkin tidak stabil, namun dari masyarakat kekuatan yang ada akan bertahan lebih lama.

Tak hanya sebagai pendukung, tak jarang para ibu yang ikut serta dalam komunitas juga memiliki hobi dan minatnya masing-masing. Seperti halnya para wanita yang tergabung dalam Komunitas Tari Indonesia.

Pada awalnya komunitas ini diciptakan oleh 6 orang pendiri yang sering menunggu pelajaran anak sepulang sekolah. Pada tahun 2018 nanti, para orang tua ini ingin menciptakan komunitas yang dapat merangkul kecintaan mereka terhadap tari.

Anggota kami berusia muda hingga 60 tahun. Kebanyakan berusia 30-an dan 40-an, kata Founder dan Public Relations Women’s Dance Community Icca Miranti saat berbincang melalui telepon dengan INFOKUTIM.COM, Jumat, 22 Desember 2023.

Icca mengatakan, sebagai komunitas, organisasi ini bukanlah sanggar yang menerapkan aturan ketat seperti ujian dan nilai. Namun lebih mudah dari segi koreografi, komposisi, tidak meninggalkan unsur tradisi dalam rangkaian langkah tari.

Dan kami terbuka untuk bekerja sama dengan musisi atau studio lain. Semua akan disesuaikan, tambah Icca.

Hingga kolaborasi ini membuat Komunitas Wanita Penari tampil di luar negeri. Tak disangka, dari pelatihan di Hospitality Center yang dilakukan setiap hari Sabtu, lambat laun komunitas ini semakin berkembang dengan tampil di Eropa, salah satunya Belanda yang diundang oleh Pemuda Pelajar Indonesia (PPI).

“Pendirinya ada yang penari, anggota klub tari UI yang mendidik ibu-ibu. Ada juga penari istana yang berkeliling Eropa untuk belajar menari,” imbuhnya.

Meski awalnya hanya ibu-ibu yang hadir, lama kelamaan para ibu juga mengundang anak cucu dan cicitnya juga. “Masih ada masyarakat kampus yang ikut menari,” kata Icca yang mengatakan masyarakat berkembang dari mulut ke mulut tentang partisipasi tersebut.

Ia juga menyampaikan bahwa ibu dapat menjadi agen perubahan dalam keluarga kecil. Sang ibu pun memberi contoh dari sejarah tersebut: Di komunitas ini, ia mampu mengajarkan dan mengajarkan tradisi-tradisi yang terkadang dilupakan oleh generasi muda.

Kebanyakan pelajaran tari diserahkan kepada guru tari. Namun tak hanya sekedar latihan, Komunitas Wanita Tari juga menyukseskan tarian tersebut seperti yang telah dilakukan belakangan ini, yaitu pertunjukan Rengana di Gedung Kesenian Jakarta.

“Jadi tahun ini kita punya target, tari apa yang ingin kita buat? Belajar tari lokal Malaysia, Tor-Tor, ada tari Garapan Mainang, tari Kipas, semua tari Sumatera di tahun pertama (komunitas ada di sana). . ),” dia berkata.

Kemudian pada tahun kedua, komunitas ini mempelajari tari-tarian dari Indonesia bagian timur, mulai dari tari Dayak dari Kalimantan hingga tari NTT. Icca juga mengatakan dengan bergabung dalam Komunitas Tari Indonesia, para ibu bisa lebih percaya diri karena sudah terbiasa tampil di depan banyak orang.

Dengan ini tubuh ibu juga akan terjaga dengan baik, keseimbangan tubuh, konsistensi gerak tubuh dan daya ingat gerak akan melawan alam bawah sadar. Komunitas Wanita Penari juga telah mencatat banyak prestasi, seperti dianugerahi Penghargaan Revolusi Psikis yang diberikan oleh Presiden Jokowi.

Baru-baru ini Komunitas Wanita Penari sedang menggarap proyek untuk masuk ke Museum Diskografi Indonesia (MURI). Mereka akan menarikan semua tarian dari Dapatkan dukungan, rekor MURI menarikan semua tarian dari 38 negara bagian dalam dua jam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *