Jangan Sampai Keuangan Berantakan Saat Baru Punya Anak, Begini Cara Pengaturannya

oleh -104 Dilihat
oleh

INFOKUTIM.COM, JAKARTA — Setiap keluarga harus merencanakan keuangannya, terutama ketika berencana memiliki anak. Transisi saat orang tua memiliki anak memang membutuhkan waktu, namun ada beberapa hal yang bisa orang tua persiapkan sedini mungkin agar perencanaan keuangan keluarga menjadi lebih mudah.

“Memang biayanya mahal. Kalau kamu punya anak, pasti kamu paham kenapa uangmu kacau balau?” “Ini adalah proses normal dan diperlukan penyesuaian,” kata perencana keuangan bersertifikat Anissa Steviani.

Sebagai langkah awal, Anisa menyarankan para orang tua menyiapkan dana untuk pembelian perlengkapan dasar bayi. Perlengkapan bayi yang tidak dapat dikonsumsi dan digunakan kembali, seperti kereta dorong atau kursi makan bayi, sebaiknya dipinjam atau disewa di tempat lain daripada membeli yang baru.

Hal ini sebenarnya dilakukan untuk meminimalisir dana kebutuhan perlengkapan bayi yang bisa dialihkan ke pilihan lain. Kedua, orang tua baru sebaiknya tidak menganggarkan makanan bergizi untuk ibu menyusui.

Selain fokus pada pendanaan kebutuhan penyediaan ASI pada bayi, jangan lupa untuk memberikan dana khusus bagi ibu agar gizinya tetap tercukupi. Biaya terakhir yang harus dipersiapkan adalah penitipan anak.

Menurut Annisa, biaya ini jarang dibicarakan padahal merupakan komponen biaya yang paling besar. Misalnya, jika ibu bekerja, maka keluarga membutuhkan babysitter atau tempat penitipan anak.

“Kalaupun diasuh oleh kakek-nenek, orang tua pasti harus menyiapkan dana tambahan untuk mereka, baik untuk makan maupun jalan-jalan,” kata perempuan yang juga fokus membuat konten edukasi ini.

Selain mengatur dana untuk kebutuhan pokok keluarga, Anisa juga menyarankan untuk menyisihkan dana untuk keadaan darurat. Dana darurat ini akan digunakan untuk hal-hal tidak terduga yang diperkirakan tidak akan terpakai dalam jangka waktu lama.

“Kalau jomblo, dana daruratnya (uangnya) tiga kali lipat pengeluaran bulanan, kalau sudah menikah enam kali, tunjangan (anak)-nya sembilan kali lipat,” jelas Annisa.

Anisa menjelaskan, dana darurat seperti tabungan sangat penting agar orang tua siap menjalani hidup baru. Sebaiknya penggalangan dana darurat dilakukan secara perlahan agar tidak terkesan berlebihan dan dapat dilakukan secara konsisten.

“Jadi teorinya, dana darurat itu kalau dijumlahkan pelan-pelan. Misalnya bisa dapat THR setengahnya masuk ke dana darurat, atau kerja sampingan yang menabung untuk dana darurat,” kata Annisa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *