Kasus Kematian Kanker Paru-Paru Tinggi, Berikut Tiga Upaya Tingkatkan Harapan Hidup Pasien

oleh -107 Dilihat
oleh

Wartawan INFOKUTIM.COM.com Aisyah Nursyamsi

INFOKUTIM.COM.COM, JAKARTA – Kanker paru menjadi penyebab kematian utama di Indonesia.

Sebanyak 34.783 orang telah terdiagnosis, dan 30.483 di antaranya meninggal dunia.

Jumlah kematian bisa mencapai 43.900 pada tahun 2030 jika tidak ada perbaikan dalam diagnosis dan penatalaksanaan kanker paru-paru.

Namun, angka harapan hidup pasien kanker paru justru bisa meningkat.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dokter Spesialis Onkologi Toraks RS Persahabatan dan Direktur Eksekutif Persatuan Kajian Onkologi Toraks Indonesia (IASTO) Prof. Dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P (K).

Prof Elisna mengungkapkan, ada tiga upaya yang dapat meningkatkan angka harapan hidup penderita kanker paru.

“Ada tiga upaya untuk meningkatkan angka harapan hidup,” ujarnya pada Media Conference “Peningkatan Kualitas Hidup Penderita Kanker Paru Melalui Uji Molekuler dan Imunohistokimia (IHK)” di Jakarta, Selasa (28/11/2023).

Hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan investigasi.

Screening merupakan kegiatan skrining terhadap orang yang sehat namun mempunyai gangguan kesehatan serius.

Kedua, deteksi dini.

Deteksi dini sama dengan pengujian. Bedanya, deteksi dini dilakukan ketika seseorang menunjukkan tanda atau gejala.

Ketiga, jika Anda sudah terdiagnosis kanker paru-paru, Anda perlu mencari pengobatan yang tepat.

Perawatan yang optimal dan spesifik diberikan.

Agar pasien mendapat pengobatan yang tepat, diperlukan tes khusus.

Selain perkembangan zaman, kini telah hadir uji molekuler dan imunohistokimia (IHK) sebagai standar diagnosis pasien kanker paru non-sel kecil (NSCLC).

Tes ini untuk mendukung keputusan penggunaan terapi target seperti ALK (Anaplastic Lymphoma Kinase) dan PD-L1 (Programmed Death-Ligand 1).

Saat ini RS Persahabatan bekerja sama dengan Roche Indonesia memberikan pemeriksaan ALK dan PD-L1 gratis dengan metode Imunohistokimia (IHK).

Sejauh ini, dia telah melakukan 30-50 pemeriksaan dalam sebulan.

Tes ini dapat membantu pasien mendapatkan diagnosis baku sehingga pengobatan dapat cepat dan akurat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *