Lisa Rumbewas Meninggal Dunia, Punya Riwayat Sakit Lutut dan Epilepsi

oleh -36 Dilihat
oleh

INFOKUTIM.COM, Jakarta – Lifter Indonesia Lisa Rumbe meninggal dunia pada hari ini, Minggu 14 Januari 2024. Berdasarkan informasi, Lisa Rumbewas menghembuskan nafas terakhir di RSUD Jayapura, Papua pukul 0300 WIB.

Belum diketahui apa penyebab meninggalnya atlet angkat besi yang mengharumkan nama Indonesia dengan sejumlah prestasi tersebut. Namun semasa hidupnya, pemilik nama Lisa Reema Rumbewas itu diketahui menderita epilepsi dan nyeri lutut.

Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau 2012 menjadi multievent terakhir yang diikutinya. Lisa mengeluhkan lututnya sakit.

“Sejak PON Riau, lutut saya sakit. Saya tidak bisa melanjutkan dengan kecepatan seperti ini ya,” kata Lisa kepada INFOKUTIM.COM, akhir Agustus 2017.

Dia melanjutkan: “Saya juga menderita epilepsi selama tiga tahun terakhir. Saya tidak mengetahuinya sampai dokter memberi tahu saya ketika saya memeriksanya.”

Lisa juga pingsan saat menerima medali pada tahun 2017 karena penyakit epilepsinya kambuh. Ia pingsan di atas panggung tak lama setelah Eric Tohir yang saat itu menjabat Ketua Umum KOI (Komite Olimpiade Indonesia) menghadiahkannya medali.

Pembatalan medali perunggu Olimpiade 2008 milik Nastasia Novikova karena skandal doping membuat Komite Olimpiade menganugerahkan medali tersebut kepada Lisa Rumbevas. Meski pembatalan sudah diumumkan IOC sejak Oktober 2016, namun upacara perebutan medali atlet peringkat keempat kategori 53 kg putri itu hanya berlangsung bersamaan dengan rapat koordinasi IOC pada akhir tahun 2017.

Lisa pertama kali duduk bersama Eric Tohir dan anggota senior IOC Rita Soebowo untuk mendengarkan dengan khidmat lagu resmi Olimpiade. Atlet Papua ini pingsan usai melakukan proses rajutan dan pengikatan medali.

Jenazah Lisa langsung dibawa ke pinggir panggung untuk dibius. Sementara itu, ibunya, Ida Korva, mewakilinya untuk menerima pengakuan simbolis dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

“Terima kasih. Lisa tidak bisa mengontrol emosinya karena tidak menyangka bisa meraih medali ini. Kalau tiba-tiba emosinya berubah, penyakit epilepsinya akan terulang kembali,” kata Ida.

Menurut Ida, putrinya juga sempat mengalami serangan epilepsi saat Olimpiade Athena 2004.

“Saat di Athena (Olimpiade 2004), dia juga bertanding seperti itu,” kata Ida.

Terapis okupasi Forrest Miller menjelaskan bahwa epilepsi adalah kejang berulang yang disebabkan oleh gangguan aktivitas listrik otak.

“Kondisi ini harus ditangani dengan sangat hati-hati dan membutuhkan banyak manajemen mandiri,” demikian ulasan Miller yang mengutip VeryWell Health.

Kebanyakan penderita epilepsi dapat hidup dengan baik. Namun, epilepsi dapat meningkatkan risiko komplikasi serius, kecacatan, dan kematian.

Mengingat serangan epilepsi dapat berakibat fatal, maka pengelolaan keselamatan lingkungan merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut. Lingkungan ini mencakup rumah, sekolah, dan tempat kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *