Mycoplasma Pneumoniae Bukan Penyakit Baru, Tingkat Keparahannya di Bawah Covid-19

oleh -80 Dilihat
oleh

Laporan jurnalis INFOKUTIM.COM.com Aisya Nursyamsi

INFOKUTIM.COM.COM, JAKARTA – Kementerian Kesehatan melaporkan 6 kasus Mycoplasma Pneumoniae telah terdeteksi di Indonesia.

Mycoplasma pneumoniae diketahui sebagai bakteri yang bertanggung jawab atas wabah pneumonia “misterius” di Tiongkok.

Terkait hal tersebut, dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) meminta dokter spesialis anak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP), Nastiti Kaswanda, tidak membuat masyarakat panik.

“Mycoplasma Pneumoniae ini bukan bakteri baru. Berbeda dengan virus baru yang muncul pada 2019, Covid-19,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Rabu (6/12/2023).

Faktanya, tingkat keparahan Mycoplasma Pneumoniae jauh lebih rendah dibandingkan dengan Covid-19, Influenza, dan penyakit lainnya.

“Masyarakat tidak perlu terlalu panik. Angka kematiannya rendah, hanya 0,2-0,5 persen, karena ada korelasinya,” jelasnya.

Menurut Nastiti, mikoplasma sendiri sudah lama diketahui menyebabkan pneumonia bakterial pada anak.

Menurut Nastiti, wabah tersebut terjadi di Tiongkok karena adanya lockdown sebelumnya dan social distance yang kemudian dirilis.

Oleh karena itu, berbagai infeksi disebabkan oleh berbagai virus dan bakteri, termasuk Mycoplasma Pneumoniae.

Selain itu, jumlahnya meningkat signifikan karena pengamatan terhadap bakteri atau virus penyebab ISPA.

Oleh karena itu, ada kecenderungan peningkatan jumlah kasus.

Bahkan sebelum pandemi, penelitian telah dilakukan di Tiongkok dan tingkat Mycoplasma Pneumonia telah ditentukan.

Bahkan, angka tertinggi terjadi pada anak usia prasekolah dan sekolah, hingga 30 persen. Saat ini, angkanya kurang dari 5 persen pada bayi.

Gejala pneumonia yang disebabkan oleh bakteri ini biasanya mirip dengan gejala infeksi saluran pernafasan.

Dimulai dengan demam, lalu batuk. Namun batuk pada infeksi ini sangat mengganggu dan bisa berlangsung selama 2-3 minggu.

Kemudian muncul gejala sakit tenggorokan lainnya.

Pada anak yang lebih besar, mereka sering mengalami gejala nyeri dan lemas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *