Orang Kaya Ternyata Jadi Biang Kerok Jakarta Macet, Ini Buktinya

oleh -110 Dilihat
oleh

INFOKUTIM.COM Plt Direktur Badan Pengelola Transportasi Jakarta (BPTJ) Kementerian Perhubungan Soeharto mencatat, masih banyak mobil pribadi yang datang ke Jakarta dari kalangan bangsawan. Hal ini pula yang menjadi penyebab kemacetan lalu lintas di Jakarta. Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya berencana menyediakan angkutan umum di wilayah tersebut.

Suharto mencatat, terdapat 117 bangunan perumahan elit di Jalan DKI di Jakarta dan sekitarnya yang menyediakan mobil pribadi. Hal ini dinilai menjadi penghambat upaya pengurangan emisi karbon di sektor transportasi. “Dari Jakarta dan sekitarnya, kami tunjukkan dari mana sumber lalu lintas angkutan pribadi, sebagian besar dari pemukiman senilai Rp 1 miliar lebih dan Rp 2,” ujarnya saat peluncuran bus listrik DAMRI miliar. Di Istana Negara Jakarta pada Jumat (22/12/2023).

“Ke depan, kami akan mencoba beralih dari pengguna mobil pribadi ke angkutan umum. Kami sedang membangun sekitar 117 bangunan tempat tinggal.” Buka jalan khusus

Untuk mengurangi jumlah mobil pribadi di 117 kabupaten kaya, Soeharto berencana membuka jalan khusus. Namun dibutuhkan ratusan armada yang rencananya akan dilaksanakan secara bertahap.

“Tahun 2024 kita sudah masuk fase 2024. Kita berharap bisa berkoordinasi dengan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub DKI Jakarta) kebutuhan di kawasan elit sebanyak 106 unit,” ujarnya.

Kemudian 86 unit lainnya terisi pada tahun berikutnya. Pada tahun 2026, terdapat penambahan 46 fasilitas angkutan umum. “Ini skenario kita untuk mengurangi dampak polusi kendaraan,” tegasnya.

Apalagi, Soeharto berharap tujuan tersebut bisa tercapai dalam waktu dekat. Pasalnya, sejauh ini sudah dilakukan penelitian.

Suharto mengatakan calon operator perlu memperhitungkan kebutuhan armada dan tarif.

“Mudah-mudahan segera terealisasi. Siapa yang melakukannya? Kami benar-benar mengundang operator angkutan umum untuk menyediakan layanan ini,” ujarnya.

“Saat ini mereka sedang mencoba menghitung berapa yang akan diberikan, berapa biaya operasionalnya, apa potensi penumpangnya, sekarang sedang dikaji,” pungkas Soeharto.

Transjakarta akan meluncurkan 100 bus listrik di Jakarta akhir tahun ini. Namun hal tersebut dinilai masih belum cukup untuk melayani penumpang sekaligus mengurangi emisi karbon.

Hal itu diungkapkan Badan Pengatur Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan Soeharto. Upaya DKI Jakarta untuk mengurangi emisi karbon menghadapi tantangan besar.

“Apakah sudah selesai 100 unit? Saya rasa belum akan selesai, apalagi kita lihat dulu bagaimana polusi di Jakarta dan sekitarnya,” ujarnya saat peresmian Serikat Bus Listrik 26 DAMRI di Istana Negara. . , Jakarta, Jumat (22/12/2023).

Ia juga mengatakan, situasi tersebut mendorong para pemangku kepentingan khususnya di Jakarta untuk melakukan perjalanan. Terutama untuk mengurangi emisi karbon di jalanan ibu kota.

“Ini adalah kesempatan besar untuk memulai sejalan dengan harapan kita bersama,” katanya. Armada sangat diperlukan

Ia mencatat, DKI Jakarta dan sekitarnya akan membutuhkan lebih banyak armada angkutan umum di masa depan. Apalagi jika memperhitungkan besarnya jumlah penduduk aglomerasi Yabodetabek yang mencapai 31 juta jiwa.

Sedangkan rata-rata kapasitas angkutan umum sekitar 2,28 juta penumpang per hari. Pendapatan tersebut berasal dari operasional Transjakarta, Transjabodetabek, MRT, LRT Jabodebek, dan KRL Commuter Line.

“Dengan 75 juta perjalanan sehari, maka dapat disimpulkan sebagian besar akan menggunakan mobil pribadi dibandingkan angkutan umum. Ini pekerjaan rumah kita yang harus diakhiri bersama,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *