Selain Edukasi Soal Stunting, Penyuluh KB Kini Didorong Peduli Kesehatan Jiwa

oleh -37 Dilihat
oleh

INFOKUTIM.COM, Jakarta – Selain memberikan edukasi mengenai stunting, penyuluh KB yang dikelola Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kini juga diimbau untuk peduli terhadap kesehatan mental.

Dorongan tersebut datang dari Kepala BKKBN Hasto Wardoyo karena penderita gangguan mental emosional di Indonesia terus meningkat secara signifikan. Pada tahun 2013, gangguan mental emosional menyumbang enam persen. Namun pada tahun 2018 mencapai 9,8 persen. “Itu membuat banyak anak-anak yang kesehatan mentalnya kurang baik,” jelas Hasto.

“Tantangan kita saat ini, di balik penurunan angka stunting ternyata gangguan mental emosional semakin meningkat. Oleh karena itu, PR (pekerjaan rumah) kita adalah membangun keluarga yang berkualitas, menurunkan stunting, dan juga meningkatkan kesehatan mental. badannya juga sehat,” kata Hasto di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin, 18 Desember 2023, merujuk siaran pers.

Hasto meminta penyuluh KB memberikan konseling kesehatan mental kepada keluarga sebagai bagian dari membangun kualitas sumber daya manusia (SDM). Pasalnya, setiap keluarga memerlukan perhatian khusus untuk menangani gangguan mental emosional.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa gangguan mental emosional adalah gangguan klinis keseimbangan pribadi. Ini mengganggu regulasi emosional dan perilaku.

Hal ini biasanya dikaitkan dengan tekanan kepribadian. WHO juga menyatakan bahwa satu dari delapan orang atau 970 juta orang di seluruh dunia mengalami masalah kesehatan mental pada tahun 2019.

Dalam kesempatan yang sama, Hasto juga menyampaikan bahwa penting bagi penyuluh KB sebagai pelayan masyarakat untuk memiliki jiwa kepemimpinan. Meliputi sikap visioner, keikhlasan dan hidup sederhana.

Hasto mencontohkan teori filsuf Aristoteles dimana terdapat 3 pilar komunikasi publik yaitu etika, logika dan empati.

“Pengajar KB harus jadi role model, dalam memberikan penyuluhan kita harus punya empati. Duduk sama ketinggian, berdiri di titik rendah yang sama, kita harus bisa paham dengan siapa kita berkomunikasi,” kata Hasto.

Ia berharap para penyuluh KB berperan sebagai hamba yang sejati, yaitu hamba Tuhan yang rela merendahkan diri. Serta harus mampu bertahan dalam keadaan sulit dan terkadang menderita hanya karena mengabdi pada orang lain.

Bidan juga mengatakan penting untuk membangun visi bersama untuk membentuk tim yang kuat.

“Visinya harus sama, harus ada rasa kebersamaan untuk mencapai sesuatu sehingga menjadi kebutuhan bersama. Kerja tim akan mencapai lebih dari individu mana pun.”

Tak lupa, ia mengapresiasi Sulawesi Barat yang penuh prestasi dan dedikasi.

“Banyak sekali capaian yang luar biasa, saya optimis stunting di Sulbar akan menurun. Meski angka kejadiannya masih tinggi, tapi itu menjadi kekuatan untuk bangkit bersama Bupati dan jajarannya untuk menjadi pahlawan menghentikan stunting secara longgar, ” dia berkata.

Senada dengan hal tersebut, Plt Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Barat, Rezky Murwanto, S.Com., MPH mengapresiasi penuh kerja keras seluruh Tim Percepatan Pengurangan Amplifikasi (TPPS) Sulawesi Barat.

“Semuanya luar biasa, kita berharap di tahun 2024 ini kita bisa mengobarkan semangat penurunan stunting di Sulbar,” kata Rezky.

Target percepatan penurunan stunting di Sulawesi Barat pada tahun 2024 adalah sebesar 18,6 persen. Menurut Rezky, komitmen pemerintah daerah sangat terfokus pada adanya kebijakan percepatan hambatan dan program Bangga Kencana yang dilakukan pemerintah provinsi dan kabupaten.

Selain itu, pihaknya rutin menggelar forum koordinasi PPS dengan mitra kerja dan melibatkan perguruan tinggi.

Melalui kolaborasi pentahelix, sebanyak 11.250 orang mendapat sosialisasi program Bangga Kencana dan PPS serta 41.008 KRS (keluarga berisiko stunting) mendapatkan bantuan pangan untuk memberantas stunting, kata Rezky.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *