Terapi Rekayasa Gen Bawa Harapan Baru Bagi Penyakit Genetik

oleh -60 Dilihat
oleh

INFOKUTIM.COM, JAKARTA – Direktur Obat dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (Chemniks) Rizka Andalusia mengatakan terapi berbasis gene editing atau rekayasa genetika dapat membantu pengobatan penyakit yang berkaitan dengan masalah genetik. “Terapi gen berbasis sel memberikan harapan kepada penderita anemia yang disebabkan oleh gen ini,” ujarnya pada kursus Gene Editing and Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeat (CRISPR) yang diadakan secara online di Jakarta untuk membantu mereka dalam menyembuhkan dan meningkatkan kualitas hidup mereka. .” , Jumat (5/1/2024).

Menurut Rizka, tidak hanya anemia, beberapa penyakit lain seperti kanker, kebutaan, dan AIDS juga bisa diobati melalui terapi gen. Berdasarkan data yang dikumpulkannya, setidaknya ada 1.100 jenis perawatan gene editing yang bisa dilakukan. Beberapa disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), yang merupakan standar internasional.

“Kami mendengar pada bulan Desember lalu bahwa ada obat yang telah disetujui oleh USFDA, yang disebut obat untuk penyakit hematologi dan kelainan darah, karena penyakit ini merupakan penyakit genetik yang banyak diderita anak-anak dan angka kematiannya lebih tinggi di negara berkembang. .Seperti Indonesia, angka kematiannya mungkin lebih tinggi,” ujarnya.

Tenaga medis dapat mengidentifikasi gen penyebab kelainan tersebut, serta memodifikasi dan mengubahnya agar tidak berkembang banyak penyakit genetik dan memberikan pengobatan kepada pasien, lanjut Rizka. Saat ini, lanjutnya, terdapat lebih dari 3.000 penelitian terkait penyuntingan gen. Oleh karena itu, ia berharap Indonesia ikut serta dalam bidang tersebut, tidak hanya sekedar ilmu pengetahuan, namun juga upaya praktis dan sejenisnya.

“Kita tentunya harus berpartisipasi dan mampu mengembangkan terapi berbasis sel dan genetik yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik masyarakat Indonesia sesuai dengan informasi genetik masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Untuk itu, Kementerian Kesehatan Afganistan berupaya membangun pusat penelitian di rumah sakit di beberapa wilayah Indonesia, agar pasien bisa ditangani dengan teknologi. Selain itu, upaya Indonesia dalam mengembangkan teknologi kesehatan juga selaras dengan pilar ketiga dan keenam transformasi kesehatan Indonesia, yaitu transformasi sistem kesehatan dan transformasi teknologi kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *