Transisi Energi Dorong Peningkatan Daya Saing Produk Indonesia

oleh -43 Dilihat
oleh

Wartawan INFOKUTIM.COM Sanusi

INFOKUTIM.COM.COM, JAKARTA – Transisi energi Indonesia tidak hanya bertujuan untuk memenuhi tuntutan masyarakat akan lingkungan yang lebih baik, tetapi juga untuk menjaga daya saing Indonesia di mata dunia.

Dadan Kusdiana, Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan zaman perdagangan global akan segera berubah, dan detail persyaratan produk manufaktur akan segera berubah.

“Saya dengar Eropa akan mulai menerapkan pajak perbatasan karbon dalam dua tahun. Bukan waktu yang lama, 2026 bukan tahun terakhir untuk memastikan perusahaan bisa masuk ke sana,” kata Dadan. Topik “Transisi Energi Indonesia: Perspektif dan Peluang Pengelolaan Berimbang di Sektor ESDM” pada Jumat (12/1/2024) di Jakarta.

Dadan mengatakan, program transfer energi juga mendukung program pemerintah lainnya. “Misalnya presiden terus menekan. Perusahaan pertambangan dan batu bara berusaha melakukan itu,” ujarnya.

Dalam konteks ini, pengembangan sektor kecil sangat penting bagi daya saing barang-barang manufaktur. Jika perusahaan-perusahaan Indonesia tidak dapat membuktikan bahwa produk mereka diproduksi dengan metode ramah lingkungan, pajak karbon akan diberlakukan, yang akan menaikkan harga.

“Jadi ke depan pertanyaannya adalah energi apa yang digunakan produk tersebut. Lalu ada batasan yang bisa dilampaui, tapi ini akan berujung pada pajak karbon dan harga barang akan naik, biaya akan terus meningkat. ,” dia berkata.

Misalnya, jika ada produk serupa yang keluar dari Vietnam, produk tersebut telah menggunakan prinsip-prinsip ESG dan ramah lingkungan dengan baik dan belum memasukkan investasi yang sama. “Jadi sudah tahu mau pilih yang mana, ini soal persaingan,” kata Dadan.

Sakelar daya juga mendukung TKDN. Awalnya, semuanya diimpor untuk pembangunan. Tapi ini hanya penciptaan pasar. “Setelah pasar tercipta, industri bisa dibangun,” ujarnya.

Selain itu, transisi kekuasaan juga mendorong pemerataan pembangunan. Pabrik ramah lingkungan dapat dibangun dengan EBT.

Dadan menjelaskan, wilayah Papua misalnya, memiliki potensi pembangkit listrik tenaga air paling besar namun belum dimanfaatkan. Hal ini dapat menjadi peluang untuk menciptakan perusahaan berbiaya rendah.

“PLTA terbesar di sana (Papua) dari dulu ada, tapi belum ada yang memanfaatkan. Jadi di Marauke tenaga anginnya besar. Kalau kita ekspansi, Papua akan seperti Jawa dulu, jadi tekanannya besar” untuk. untuk memiliki pabrik di sana, kata Dadan.

Sementara itu, Julfi Hadi, Presiden PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE/PGEO), mengatakan dalam dua tahun terakhir, pengembangan panas bumi mengalami kemajuan seiring dengan program transfer energi yang didukung pemerintah.

Julfi Hadi mengatakan Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak sumber daya panas bumi.

“Ibaratnya mengetuk pintu, padahal Indonesia saat ini punya cadangan paling besar. Terbesar ada di Jawa dan Sumatera. Bahkan bisa berperan dalam evolusi energi panas bumi. Harganya bisa kompetitif,” ujarnya. .

Julfi menegaskan energi panas bumi dapat menjadi sumber energi potensial yang dapat menggantikan batu bara untuk pembangkit listrik primer. Dikatakannya, dalam hal ini pemerintah berupaya menciptakan lingkungan yang baik. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengubah model bisnis pengembangan energi panas bumi agar berhasil.

“Panas bumi berperan penting dalam mencapai transisi energi. Keterbatasan dalam panas bumi bersifat komersial dan dapat diandalkan. Jawabannya adalah dengan mengubah model bisnis, kerja sama, dan insentif yang tepat. Kembangkan rencana bisnis. Jika jalur transmisi tersebut tembus maka akan menjadi terobosan panas bumi di Indonesia. Anda perlu melihat model bisnisnya. Kami dapat mengirimkan produk perantara. “Indonesia mempunyai cadangan yang sangat besar,” kata Julfi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *